Oknum guru SMP di Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara berinisial R menyerahkan diri ke kantor polisi seusai dilaporkan atas kasus pelecehan seksual, Rabu (31/1/2024). Merasa terancam setelah kasus pelecehan seksual sesama jenis terhadap 17 siswa viral di media sosial. Saat menyerahkan diri ke Mapolsek Sampolawa, R mengakui semua perbuatannya.

Kapolsek Sampolawa, IPTU Herman Mota menyatakan R sudah mengalami penyimpangan seksual sejak kuliah. Kemudian dibawa ke ruang tahanan (rutan) di Mapolres Buton. Saat diperiksa, R mengaku frustasi setelah perbuatan bejatnya diketahui sehingga memilih untuk menyerahkan diri.

Berdasarkan keterangan korban, kasus pelecehan dilakukan R sejak akhir tahun 2023. Dukung Digitalisasi Polda Jateng, Telkom Regional IV Jamin Layanan Cepat dan Aman Zul Arifin Sebut Berobat Gunakan BPJS Kesehatan Sangatlah Mudah dan Memuaskan

Pukul 6 Pagi Masih Bisa Shalat Subuh?Penjelasan Ustadz Abdul Somad terkait Batas Waktu Sholat Subuh Not Angka Pianika dan Lirik Lagu Mengheningkan Cipta, Mudah untuk Dimainkan Usaha Sultan Andara Mulai Sepi Pembeli, Ini Jawaban Bijak Raffi Ahmad

NASIB Bocah Tinggal Sendiri Selama 2 Tahun, Ibu Minggat dengan Pacar Baru, Kondisinya Memprihatinkan Kepala Dinas di Pemkab Pasuruan Terbukti Fasilitasi Mantan Bupati untuk Sosialisasi Pencalegan Jakarta Sengit, Cek 3 Survei Elektabilitas Pilpres 2024 Terbaru, Terjawab Capres Terkuat di Ibu Kota Halaman 4

Merupakan guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan baru pindah ke Kabupaten Buton Selatan pada tahun 2022. Sebelumnya, R berdinas di Kota Tual, Maluku. Selama bekerja di salah satu SMP di Sampolawa, R mengajar sebagai guru Bahasa Inggris dengan jam belajar 24 jam per minggu.

Para guru tidak menyangka R terlibat kasus pelecehan siswa karena sempat mengikuti program guru penggerak yang diinisiasi Kemendikbud. Guru yang mengikuti program tersebut diharapkan menjadi pemimpin pembelajaran dan berperan sebagai pendorong transformasi pendidikan. Kepala Sekolah, Halim mengatakan R dilarang untuk mengajar selama proses penyelidikan berlangsung.

Pihak sekolah telah memanggil R dan memeriksanya. Saat diperiksa, R mengakui perbuatannya dan menyebut jumlah korban mencapai 17 siswa. "Sudah dua kali saya bicara dengan guru terkait, ia mengakui," lanjutnya.

Sementara itu, Kepala UPTD PPA Buton Selatan, Wa Ode Siti Sahara menyatakan dua korban mengalami pelecehan berulang kali dan berdampak terhadap psikis korban. Para korban pelecehan akan mendapatkan assessment serta pendampingan agar tidak mengalami trauma hingga ketakutan. "Tindakan kami selanjutnya tentu saja kami akan breafing bersama psikolog agar dapat melakukan langkah langkah selanjutnya yakni konseling," tandasnya.

Kasus pelecehan belasan siswa SMP terungkap seusai personel Polsek Sampolawa dan UPTD PPA Kabupaten Buton Selatan mendatangi rumah salah satu korban. Dalam pemeriksaan tersebut, korban mengaku sering ditraktir makanan oleh R agar mau memuaskan nafsunya. Salah satu guru, Marlin mengatakan siswa berinisial SL sempat menemuinya di belakang sekolah dan menceritakan kasus pelecehan yang dialaminya.

"Usai mendengar hal tersebut, saya melakukan koordinasi bersama guru dan kepala sekolah." "Setelah itu, kami memanggil siapa saja yang pernah berinteraksi dengan oknum guru tersebut dengan perlakuan tidak biasa," tandasnya.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *