Rusia dan Arab Saudi kompak menentang proposal untuk melipatgandakan kapasitas energi terbarukan negara negara G20 yang rencananya akan dimulai pada 2030. China, yang merupakan penghasil emisi karbon dioksida terbesar di dunia, serta negara pengekspor batubara seperti Afrika Selatan dan Indonesia juga menentang rencana tersebut. “India sebagai pemegang kepresidenan G20 saat ini mengambil sikap netral terhadap masalah tersebut,” kata seorang sumber yang tidak disebutkan namanya.

Rencana itu awalnya diusulkan oleh negara negara G7 pada pertemuan delegasi menteri G20 di Goa, India. Sementara salah satu sumber lainnya mengatakan Rusia dan Arab Saudi menolak untuk menerima target peningkatan kapasitas non fosil atau tenggat waktu untuk menambahkan energi terbarukan dengan alasan gas alam merupakan bagian penting dari bauran energi mereka. Adapun diskusi mengenai produksi hidrogen, yang diharapkan banyak negara akan memudahkan transisi dari bahan bakar fosil juga tidak menemui titik terang.

Inilah Rektor Baru Universitas Muhammadiyah Malang Prof Nazaruddin Malik, Memimpin hingga Tahun 2028 Sederet Perbedaan CPNS dan PPPK, Mulai dari Gaji hingga Penempatan Kerja Bayi Lahir dengan 24 Jari, Orangtua Baru Tahu saat Hendak Pulang dari Tempat Bersalin

Kendaraan Roda Empat di Cibinong Bogor Berbenturan Hingga Terguling, Kerugian Capai Rp 80 Juta RAMALAN SHIO Besok Jumat 2 Februari 2024: Shio Kerbau Pembawa Berkah, Shio Ular Sedang Penat Halaman all BREAKING NEWS: Aksa Mahmud dan Airlangga Dampingi Prabowo Subianto Temu Relawan di Makassar

Daftar Pemain Absen di Derby d'Italia, Inter Milan Tanpa Si Pengkhianat, Juventus Krisis Lini Depan Kunci Jawaban IPA Kelas 9 SMP Halaman 48 dan 49: Uji Kompetensi Uraian Halaman all “Beberapa anggota mencari frasa hidrogen rendah karbon untuk diadopsi, daripada hidrogen hijau,” ungkap sumber tersebut.

Di sisi lain, Uni Eropa dan Amerika Serikat juga "berusaha untuk mengkritik Rusia" dan telah mengangkat masalah kerawanan energi sebagai akibat dari perang Ukraina “Rusia membalas dengan mengatakan aliran minyak global telah bergeser karena sanksi yang diberlakukan oleh Barat, dan juga meminta penyelidikan internasional atas sabotase pipa tersebut,” kata sumber itu. Adapun para menteri energi yang mewakili anggota Kelompok 20 ekonomi utama, yang bertemu untuk terakhir kalinya sebelum para pemimpin mengadopsi sebuah deklarasi di New Delhi pada September juga tidak menyetujui perang di Ukraina.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *